Selasa, 22 Maret 2011

Numpang Lewat .....: Mangga Raksasa

Numpang Lewat .....: Mangga Raksasa

Mangga Raksasa









MANGGA RAKSASA: Bupati Kabupaten Dairi KRA Johnny Sitohang Adinegoro memperkenalkan mangga raksasa kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad disaksikan Wakil Gubernur Sumut Gatot Pujonugroho pada pembukaan Pekan Raya Sumut di Medan, Jumat (18/3). Bobot per biji kabarnya mencapai 6 kilogram. (Analisa/sarifuddin siregar)


Bupati Dairi Perkenalkan Mangga Raksasa

Sidikalang, (Analisa)

Bupati Dairi, KRA Johnny Sitohang Adinegoro memperkenalkan sebuah komoditas baru. Mangga raksasa. Demikian nama yang dialamatkan kepada buah dimaksud saat menerima kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad didampingi Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho pada Pembukaan Pekan Raya Sumatera Utara di Medan, Jumat (18/3).


Johnny menjelaskan, buah dimaksud ditemukan di Desa Alur Subur Kecamatan Tanah Pinem, sebuah permukiman terisolir di wilayahnya. Di sana , beberapa pohon tumbuh subur dan produktif. Per biji bisa mencapai bobot 6 kilogram. Masih mentah saja sudah mencapai 3 kilo.


Sayangnya, potensi itu ekonomi itu tertutup. Sebab, selama puluhan tahun perkampungan itu jauh dari sentuhan pemerintah. Topografi jalan sangat curam serta konstruksi tidak wajar. Mengerikan. hanya dua mobil gardan dua bisa beroperasi. Setiap karung hasil tani dikenai ongkos hingga puluhan ribu. Karenanya, tidak banyak penduduk bertransaksi ke pasar. Informasi relatif gelap disertai biaya hidup mahal. Kini akses mulai terbuka menyusul kunjungan kerja pemerintah daerah disertai gotong-royong pembukaan jalan.


Saat ini sudah diuji coba pada areal seluas dua hektar. Guna pengembangan budidaya, pemerintah daerah telah menjalin kerja sama dengan Universitas Sumatera Utara. Ditambahkan, rasa dan aroma persis setara harum manis.

Fadel Muhammad sempat memegang produk itu seraya mengutarakan kekaguman.


Mantan Gubernur Gorontalo ini menegaskan, guna percepatan pembangunan, setiap daerah harus punya keunggulan. Jumlahnya cukup satu sampai tiga jenis. Jangan bangga kalau punya sepuluh komoditas unggulan. Ukuran keberhasilan seorang kepala daerah adalah peningkatan pendapatan atau kesejahteraan. Semakin tinggi HDI (human development indeks) maka tingkat kesejahteraan kian positif. Bila itu tercapai, maka seorang kepala daerah berpeluang duduk dua periode. Keterbatasan anggaran disertai perencanaan yang matang diyakini mampu membawa perubahan. hal itu sudah ia terapkan kala menjadi kepala daerah yang berhasil mengangkat martabat warga (ssr)


Harian Analisa edisi enin tgl 21/3/2011

www.analisadaily.com

Minggu, 27 Februari 2011

Petani Tolak Diskriminasi


Sidikalang, (Analisa)

Hitada (Himpunan Petani Kabupaten Dairi) menyatakan sikap menolak segala bentuk diskriminasi. Perlawanan dimaksud dilakukan melalui doa bersama dilaksanakan di pelataran rumah Ir Benpa Hisar Nababan di Panji Bako Desa Sitinjo Kecamatan Sitinjo, Rabu (23/2).

Dua ratusan lebih warga mengambil peran di sana. Teristimewa, agenda diarahkan kepada Panda Nababan Ketua fraksi PDI Perjuangan DPR RI yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut.

Kaum remaja, ibu dan bapak bergiliran berucap harap, agar Tuhan memberi berkat kepada politisi dimaksud menghadapi proses peradilan. Dipintakan juga, Tuhan membuka hati hamba hukum agar menegakkan keadilan tanpa diskriminasi.

Pendeta Robinhood Nababan MDiv melalui kotbah memaparkan, diskriminasi yang terjadi saat ini sudah menyentuh sendi-sendi kehidupan. Kaum mayoritas seolah mendapat legalisasi dari penguasa menindak minoritas. Pembakaran gereja dan tindakan lainnya seakan peristiwa biasa tanpa akhir penyelesaian terukur.

Patut dipertanyakan, apakah oknum tertentu telah masuk ke dalam pembuat kebijakan sehingga perlakuan itu relatif tanpa kendali. Dia mencontohkan peristiwa tragedi Trisaksi yang diikuti peristiwa kasar termasuk tragedi Temanggung baru-baru ini sungguh memilukan.

Selain perilaku mayoritas, kekuasaan sepertinya dipakai untuk menekan lawan politik. Oknum tertentu mengalihkan isu diduga bertujuan menutupi kesalahan. Dan, itu yang menimpa Panda.

Begitu pun, kader senior itu disarankan tabah menghadapi cobaan. Menyatakan kebenaran memang terasa pahit. Namun hal itu dipastikan membuahkan hasil yakni kebahagiaan dan beroleh kerajaan surga. Upaya mencari dalil kesalahan melalui diskriminasi diyakini bukannya mempercepat perwujudan kesejahteraan rakyat. Justru sebaliknya, menimbulkan kurangnya kepercayaan publik.

Solusi utama, ujar Robinhood, perlawanan dilakukan melalui budi baik. Perbesarkan amal hingga mengundang simpati lingkungan. Di samping itu, mesti berdoa terus-menerus hingga Tuhan mengetuk nurani penindas, lalu mau mengakui kebenaran. Dibutuhkan waktu dan proses.

Pada bagian lain, Kartika Ginting (21) mahasiswa semester V salah satu perguruan tinggi swasta di Medan mencemaskan kelangsungan perkuliahan. Sejak duduk di kursi kelas 1 SMP, ia memperoleh beasiswa setiap bulan hingga awal Februari kemarin. Dia tidak tahu, masihkan biaya itu dikirim menyusul penahanan bapak angkat. (ssr)

Dimuat di Hr Analisa, Sabtu (25/2/2011)

www.analisadaily.com


Numpang Lewat .....: Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Numpang Lewat .....: Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Numpang Lewat .....: Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Numpang Lewat .....: Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Sabtu, 26 Februari 2011

Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total: "alur utama menghubungkan Medan dan Kabupaten Tanah Karo menuju Kabupaten Dairi dan wilayah tetangga diantaranya Pakpak Bharat, Subulusalam dan Aceh Singkil lumpuh total selama 19 jam"

Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Numpang Lewat .....: Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

PERBAIKI SENDIRI: Sebuah jembatan darurat di Lae Pondom Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi hampir ambruk. Ruas dimaksud termasuk kategori jalan nasional menghubungkan Medan, Tanah Karo hingga Kabupaten Dairi juga menuju Aceh. Akibat kerusakan itu, lalu lintas lumpuh total selama 19 jam. Sopir dan warga berusaha memperbaiki secara swadaya, Sabtu (26/2). (Analisa/sarifuddin siregar)

Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total
Sidikalang, (Analisa)
Akses transportasi di jalur utama menghubungkan Medan dan Kabupaten Tanah Karo menuju Kabupaten Dairi dan wilayah tetangga diantaranya Pakpak Bharat, Subulusalam dan Aceh Singkil lumpuh total selama 19 jam. Hal itu terjadi akibat sebuah jembatan darurat di Lae Pondom Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi, kilometer 119 Medan nyaris ambruk. Macet berat di titik tersebut pukul 16.00 Wib Jumat (25/2) berujung pada rusaknya jembatan yang dibangun dua bulan lalu.

Sekilas, besi penahan tampak peyot diduga akibat lalu lalang kendaraan over tonase tanpa kontrol. Hingga pukul 11.30 Wib Sabtu (26/2), ratusan kendaraan jenis truk masih tertahan di dua arah menunggu infrastruktur membaik. Upaya penanggulangan dilakukan secara swadaya para sopir dan warga. Mereka membongkar lalu memasang broti pengganti. Kerja keras itu membuahkan hasil. Untuk sementara, disepakati hanya mobil berukuran kecil diperkenankan lewat. Truk roda delapan masih menunggu. Di sana juga terlihat muatan berat termasuk pipa besi berdiameter panjang.

Sementara itu, pengendara lainnya terpaksa beralih mempergunakan jalan alternatif yakni Merek-Sikodon-kodon-Silalahi hingga Sumbul. Route itu dikabarkan juga sangat rawan bahaya dimana lebar jalan kurang memadai. Di kiri terdapat tebing siap longsor sedang di sebelah kanan mesti waspada tergelincir ke Danau Toba.

Menyusul masalah itu, pengusaha jasa transportasi memilih menunda beberapa keberangkatan dini hari. Po Datra misalnya, memutuskan meniadakan trip 03.00 Wib menunggu hari cerah dan informasi terkini. Penumpang pagi bergerak memakai jalur Silalahi. Sopir pembawa BBM (bahan bakar minyak) dari Belawan diinformasikan beralih dari Kabanjahe-Tigalingga menuju Sidikalang. Penambahan lama pengiriman membuat stok bensin dan solar di SPBU sempat terkendala.

Jongarih Girsang anggota SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) Desa Tanjung Beringin Kecamatan Sumbul di sela gotong – royong menuding, persoalan itu terkait erat dengan muatan truk di luar ambang normal. Umumnya, mobil roda enam membawa barang di atas 30 ton. Kuantitas per malam ditaksir lebih 200 unit. Konsekwensinya, aspal hotmix berubah hancur-hancuran.

“Bisa anda bayangkan betapa jalan dan jembatan di lintasan ini kian babak belur. Entah siapa lagi yang peduli” ujar Jongarih. Seputar konstruksi jembatan, menurutnya semula sudah baik. Akibat bobot berlebih, rel roda sekaligus pengikat papan jembatan jadi lepas. Bentuk sarana penghubung itu pun mulai surut dan oleng.

Beberapa sopir menyesalkan lemahnya atensi pemerintah. Kecuali polisi dan anggota TNI AD, tak ada petugas di sana. Mereka protes sebab pembayaran di jembatan timbang Sidikalang tidak boleh kurang namun kualitas sarana tidak becus. Di unit pengawasan itu, seorang sopir pembawa minyak sawit mentah jurusan Meulaboh-Belawan mengungkap, mesti menyetor Rp 100 ribu. Dari perbatasan Sumut-Aceh di Pakpak Bharat hingga Medan, total pengeluaran mencapai Rp 600 ribu. Di jalur Aceh, bersih tanpa kutipan.

“Seratus ribu sekali lewat. Seribu rupiah pun tak boleh kurang. Tapi, seperti inilah jalannya. Itu belum termasuk kutipan lain bergaya preman ” ujar pria marga Manullang asal Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan. Sopir lain pembawa pupuk menyebut, biasa membayar Rp 150 ribu. Setoran itu tanpa tanda terima. Buruknya cuaca ditambah antrian panjang membuat sebuah truk terperosok masuk parit tak jauh dari lokasi peristiwa.

Bambang Pardede PNS di di Balai Besar Rehabilitasi Jalan Nasional Kementerian Pekerjaan Umum belum berhasil dikonfirmasi. Telepon selluler berikut pesan singkat tidak dijawab. (ssr)

Rabu, 23 Februari 2011

Numpang Lewat .....: Menjaga Durian

Numpang Lewat .....: Menjaga Durian

Menjaga Durian


Anak anak di Dusun Gupa Desa Bunturaja Kecamatan Siempat nempu Kabupaten Dairi -Sumatera Utara memamfaatkan waktu menjaga panenan durian usai pulang sekolah. Harga per buah cenderung mahal berkisar Rp 20-35 ribu di Pasar Sidikalang. Hal itu merupakan konsekswensi penebangan pepohonan beberapa tahun silam. Di tingkat petani, penerimaan per batang mencapai Rp 1 juta pada usia tujuh tahun, Rabu (23/2/2011). Beberapa kecamatan di wilayah ini dikenal sebagai sentra durian. Di pasaran, produk itu dikenal dengan nama durian Tigalingga atau Parongil.

Selasa, 22 Februari 2011

Numpang Lewat .....: Eeeiitttsss... Numpang Lewat.....: Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat

Numpang Lewat .....: Eeeiitttsss... Numpang Lewat.....: Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat

Numpang Lewat .....: Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat

Numpang Lewat .....: Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat

Numpang Lewat .....: Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat

Numpang Lewat .....: Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat

Numpang Lewat .....: Numpang Lewat .....: Muscab II Partai Demokrat Kabupaten Dairi

Numpang Lewat .....: Numpang Lewat .....: Muscab II Partai Demokrat Kabupaten Dairi

Numpang Lewat .....: Muscab II Partai Demokrat Kabupaten Dairi

Numpang Lewat .....: Muscab II Partai Demokrat Kabupaten Dairi

Muscab II Partai Demokrat Kabupaten Dairi


MUSCAB PD DAIRI: Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Utara H Tengku Milwan disambut Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Dairi Sumihar Silalahi pada agenda Musyawarah Cabang II Partai Demokrat Kabupaten Dairi di Bale Karina Sidikalang, Selasa (22/2/2011). Semoga partai ini kian berkembang dan memberi makna bagi kesejahteraan masyarakat

Eeeiitttsss... Numpang Lewat.....: Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat

Eeeiitttsss... Numpang Lewat.....: Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat

Muscab Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat


PUKUL GONG: Ketua DPD Partai Demokrat Sumut H Tengku Milwan disaksikan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pakpak Bharat Ir Remigo Yolando Berutu MBA dan muspida memukul gong menandai dimulainya musyawarah cabang II di Gedung Serba Guna, Salak, Selasa (22/2/2011). Keberadaan partai diharap memberi kontribusi bagi percepatan pembangunan daerah.

Kamis, 17 Februari 2011

Untaian Kata: Hutan Kemiri di Kabupaten Dairi

Untaian Kata: Hutan Kemiri di Kabupaten Dairi

Untaian Kata: Jembatan Lau Gunung Tanah Pinem Kab Dairi Penuh Lumpur

Untaian Kata: Jembatan Lau Gunung Tanah Pinem Kab Dairi Penuh Lumpur

Untaian Kata: 288 Warga Dairi Terinfeksi TB Paru

Untaian Kata: 288 Warga Dairi Terinfeksi TB Paru

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Jembatan Lau Gunung Tanah Pinem Kab Dairi Penuh Lumpur

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Jembatan Lau Gunung Tanah Pinem Kab Dairi Penuh Lumpur

Jembatan Lau Gunung Tanah Pinem Kab Dairi Penuh Lumpur


Jembatan Lau Gunung Di Desa Lau Gunung Kecamatan Tanah Pinem Kabupaten Dairi kerap tumpat oleh lumpur. Ruas ini dikategorikan sebagai jalan nasional menghubungkan Kabupaten Dairi Sumatera Utara-Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Selain itu, konstruksinya sangat berbahaya dimana penyangga mulai raib sedang besi penahan lainnya telah aus, Minggu (6/2).

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Hutan Kemiri di Kabupaten Dairi

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Hutan Kemiri di Kabupaten Dairi

Hutan Kemiri di Kabupaten Dairi


Tiga daerah di Kabupaten Dairi yakni Kecamatan Tanah Pinem, Tigalingga dan Gunung Sitember merupakan sentra penghasil kemiri. Di wilayah itu, hamparan perladangan dimaksud tampak bagai hutan. Sungguh prospektif. Hampir semua organ tanaman dapat diuangkan. Kulit buah juga dijual dijadikan bahan bakar yang dipasok ke Medan untuk kebutuhan panggang daging,

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Bawang Lokal

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Bawang Lokal

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Paropo salah satu sisi indah Danau Toba

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Paropo salah satu sisi indah Danau Toba

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Pelantikan Bupati Kabupaten Pakpak Bharat

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Pelantikan Bupati Kabupaten Pakpak Bharat

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Penyerahan Sapi Bantuan

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Penyerahan Sapi Bantuan

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Bupati Dairi Terima Ambulance Bantuan PT Askes

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Bupati Dairi Terima Ambulance Bantuan PT Askes

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Pengusaha Lirik Bisnis Super Market di Sidikalang?

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Pengusaha Lirik Bisnis Super Market di Sidikalang?

HORAS & NJUAH-NJUAH...: HORAS & NJUAH-NJUAH...: BELUM ADA ANGKOT

HORAS & NJUAH-NJUAH...: HORAS & NJUAH-NJUAH...: BELUM ADA ANGKOT

HORAS & NJUAH-NJUAH...: BELUM ADA ANGKOT

HORAS & NJUAH-NJUAH...: BELUM ADA ANGKOT

HORAS & NJUAH-NJUAH...: 12 Ruko Terbakar di Sidikalang

HORAS & NJUAH-NJUAH...: 12 Ruko Terbakar di Sidikalang

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Menkominfo Akan Sampaikan Kasus Kerusakan Jalan ke Menteri PU

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Menkominfo Akan Sampaikan Kasus Kerusakan Jalan ke Menteri PU

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Kemiskinan Memaksa Ibu Memasung Sang Putra

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Kemiskinan Memaksa Ibu Memasung Sang Putra

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Operasi Beras Murah di Pakpak Bharat Sepi Pembeli

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Operasi Beras Murah di Pakpak Bharat Sepi Pembeli

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Pencairan Dana Proyek Bronjong Kementerian PU Diduga Langgar Aturan

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Pencairan Dana Proyek Bronjong Kementerian PU Diduga Langgar Aturan

Pencairan Dana Proyek Bronjong Kementerian PU Diduga Langgar Aturan

Sidikalang, (Analisa)

Keberadaan proyek pembangunan bronjong di Desa Butar Kecamatan Tanah Pinem mendapat atensi anggota Komisi B DPRD Dairi membidangi pembangunan.

Pissher Simamora anggota legislatif, mengatakan, jika benar pekerjaan fisik belum selesai hingga Pebruari 2011 (analisa 7/2), seharusnya dana tetap dikembalikan ke kas negara.

Mengingat kegiatan ditalangi APBN (anggaran pendapatan belanja negara) di Pos Kementerian Pekerjaan Umum, tentu sudah sepatutnya pihak berkompeten mentaati disiplin anggaran.

Tak ada argumentasi macam-macam kecuali mengacu pada payung hukum. Sepanjang proyek diikat kontrak maka aturan tersebut wajib dituruti.

Bila tidak tuntas, pulangkan saja uang ke kas negara. Itu merupakan konsekwensi kalau rencana tidak disusun secara matang dan kontraktor tidak bekerja sepenuh hati. Jangan-jangan rekanan dimaksud bukan ahli di bidang pekerjaan itu?

Pissher memprotes keras bila benar Balai Besar Rehabilitasi Jalan Nasional Wilayah Sumut mencoba berkolusi di daerah ini. Dia menolak keras upaya oknum tertentu melakukan manipulasi.

Diakui, pemerintah daerah di level otonom tidak banyak tahu seputar ragam proyek ditangani pusat.

Seyogianya, pengelola mesti menginformasikan agar bupati dan ketua DPRD mencatat dana mana yang masuk. Bukan sebaliknya, diam-diam turun dan berlalu tanpa kabar.

Terhadap dana proyek ini, Pissher mempertanyakan di mana posisi uang sekarang. Jika disimpan atas nama pribadi, menurutnya, patut diduga suatu penyelewengan. Uang negara tidak boleh dititipkan di rekening perorangan.

Bila saja justru sudah dibayar terlebih dahulu kepada pemborong, malah berpotensi besar menyimpang.

Dikatakan, tidak boleh biaya proyek dibayar penuh sebelum finish. Dan penyelesaian juga mesti dibuktikan administrasi termasuk dokumentasi.

File tersebut diantaranya meliputi pekerjaan sebelum dilaksanakan, sedang dilakukan dan setelah tuntas. Selanjutnya, dana pemeliharaan sebesar 5 persen dibuat sebagai jaminan bank.

Tujuan Utama

Zahulu PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) kegiatan dikonfirmasi melalui hubungan telepon selluler, Senin (7/2) membenarkan, adanya pelanggaran dalam pencairan keuangan.

Secara fisik, proyek belum selesai tetapi dana sudah diberikan. Hanya saja, uang tidak boleh diambil sesuai kesepakatan dengan kontraktor. Seiring itu, pekerjaan di lapangan tetap lanjut sehingga tidak ada yang dirugikan.

Dari total biaya Rp 1,4 milliar, sebesar 50 persen disimpan di Bank Mandiri Medan atas nama JG. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh PT MLI dengancara PL (penghunjukan langsung).

Itu terkait sifat pekerjaan dikategorikan sebagai bencana alam. Begitu pun, diakui, hingga kontrak berakhir bulan desember 2010, item-item itu belum selesai.

Ketimbang uang kembali ke pusat, pengelola mengambil kebijakan menyimpan rupiah di bank. Itu ditempuh agar tujuan utama yakni tersedianya fasilitas representatif dapat tercapai.

Kepentingan publik lebih diutamakan. Bila sisa anggaran dipulangkan, maka lalu lintas tidak normal dimana sebelumnya longsor sudah terjadi di objek pekerjaan.

Namun demikian, dibenarkan, ada pelanggaran prosedur terkait keuangan. Dia mengatakan, lokasi pemasangan bronjong terdapat di dua titik. Dipastikan, dua pekan ke depan semua akan tuntas.

Bambang Pardede Kepala Satuan Kerja Balai Besar Rehabilitasi Jalan Nasional membenarkan desain fisik tidak dibikin secara professional. Itu dikarenakan jenis tugas adalah bencana alam.

Uang tidak dikembalikan ke pusat dengan pertimbangan, agar target pembangunan tercapai.

Tujuannya adalah membantu kelancaran arus lalu lintas. Jika dana direalisasikan sesuai progres semisal 40 persen pada bulan desember, maka konstruksi itu tidak berguna sesuai harapan. Bahkan, resikonya bisa lebih berat.

Seorang PNS yang biasa menangani pengadaan barang dan jasa di Pemkab Dairi berpendapat, sesuai Undang-Undang nomor 80 tahun 2003 tentang pedoman pengadaan barang dan jasa, jaminan bank hanya diperbolehkan sebesar 5 persen untuk pemeliharaan.

Jika sampai uang proyek di luar persentase itu disimpan atas nama perorangan, diduga kuat sudah menyalahi. (ssr)

Disiarkan Hr Analisa 09 Februari 2011)

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Bronjong Kementerian PU Berbiaya Rp1,4 M di Dairi Belum Selesai

HORAS & NJUAH-NJUAH...: Bronjong Kementerian PU Berbiaya Rp1,4 M di Dairi Belum Selesai

Bronjong Kementerian PU Berbiaya Rp1,4 M di Dairi Belum Selesai

Sidikalang, (Analisa)

Pembangunan bronjong atau penyangga longsor dari Kementerian Pekerjaan Umum dialokasikan di Desa Butar/ Lau Riman Kecamatan Tanah Pinem Kabupaten Dairi belum juga

selesai kendati telah memasuki bulan kedua tahun 2011. Dana konstruksi dimaksud, dikabarkan ditampung di Balai Besar Rehabilitasi Jalan Nasional tahun 2010 berbiaya Rp 1,4 milliar.

Dikonfirmasi, Minggu (6/2), pekerja menyebut, mereka menerima tugas untuk penanganan dua lokasi. Apakah masih ada lokasi lain, tidak diketahui. Pokoknya yang dikerjakan masih dua tempat. Soal perusahaan mana yang diregistrasi, tidak dipahami.

Buruh dimaksud hanya menerima perintah dari pemborong asal Kabanjahe. Sedang buruh itu umumnya berasal dari Sidikalang. Namun, beberapa di antaranya membenarkan bahwa pemimpin proyek adalah berinisial Z.

Diutarakan, borongan mulai dikerjakan bulan oktober 2010. Kegiatan sudah berhenti selama empat hari berhubung ketiadaan material khususnya batu. Pasokan terkendala.

Diperoleh informasi, rekanan pelaksana adalah PT MLI. Warga sekitar kurang mengetahui seputar proyek itu. Apalagi plank tidak tampak terpajang.

Dari pantauan lapangan, pasangan di satu lokasi terlihat belum dipadatkan. Permukaan mulai retak. Sedang sisi kiri dan kanan tidak ditutup kandas hingga ke perbatasan tebing. Kedua sudut menganga. Sedang di Lau Riman, susunan masih jauh dari perampungan.

Bambang Pardede, Kepala Balai Besar Rehabilitasi Jalan Nasional wilayah Sumut membenarkan, kegiatan belum selesai. Pekerjaan itu dikategorikan bencana alam atau darurat sehingga butuh penanganan segera. Tujuan utama alokasi kegiatan adalah menciptakan kenyamanan bagi pengguna jalan. Jika saja keuangan dicairkan sesuai kondisi lapangan semisal 40 persen per desember tahun 2010, maka target utama tidak tercapai. Efeknya bisa fatal hingga menimbulkan longsor.

Proyek dipastikan diteruskan, tuntas dua pekan mendatang. Diutarakan, keterlambatan disebabkan tersendatnya bahan bangunan. Saat ini pihaknya melakukan "jaminan bank", di mana uang direalisasikan seratus persen tetapi disimpan di bank. Bukan dicairkan kepada kontraktor.

Menurutnya, pihak berkompeten termasuk DPR RI dan BPK melakukan kontrol ketat agar mutu terjamin. (ssr)

Disiarkan di Hr Analisa Senin tgl 7/2/2011




Operasi Beras Murah di Pakpak Bharat Sepi Pembeli


Pakpak Bharat, (Analisa)
Operasi beras murah di Salak ibukota Kabupaten Pakpak Bharat, Senin (14/2) sepi pembeli. Tidak seperti di kabupaten tetangga dan daerah lainnya. Pelataran Gedung Serba Guna sebagai pusat kegiatan tampak hanya diramaikan oleh beberapa pegawai berkompeten dan manajemen Perum Bulog Kasilog Kabanjahe, Lukman P Silitonga.
Tak ada antrian panjang dan suara riuh saling rebut bahan kebutuhan pokok tersebut. Konsumen datang satu atau dua orang, lalu sesudahnya pulang menumpang becak atau sepeda motor pribadi. Hingga menjelang siang, muatan belum habis sepertiga.
Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah, Albert M Samosir membantah kurangnya sosialisasi. Pihaknya telah menyampaikan informasi kepada warga jauh-jauh hari. Selain kaum marginal, PNS juga diperkenankan mengonsumsi. Jadi, tidak ada pembatasan.
Disebutkan, penduduk di Pakpak Bharat memperoleh kuota sebanyak 100 ton untuk tahap pertama. Bila kurang, akan didrop lagi. Kuantitas itu akan dibagi ke seluruh kecamatan guna pemerataan distribusi. Dia merinci, dari jumlah di atas, Kecamatan Salak mendapat 20 ton, Sitellu tali urang jehe 45 ton, Sitellu tali urang julu 15 ton, Kerajaan 15 ton dan Pagindar 5 ton.
Pihaknya mematok harga Rp 6370 per kilogram. Disparitas harga dibanding kabupaten lain disebabkan penambahan ongkos transportasi dan pengeluaran lainnya. Itu dibenarkan petunjuk kerja. Harga pasar sebelumnya mencapai Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per kilogram. Dari konfirmasi terhadap warga sekitar, beberapa diantaranya mengaku belum memperoleh kabar meringankan itu. (ssr)


Disiarkan di Hr Analisa edisi, Rabu tgl 16 feb 2011

Kemiskinan Memaksa Ibu Memasung Sang Putra




Oleh: Sarifuddin Siregar
Tak seorang pun manusia sudi bersahabat dengan kemiskinan. Masing-masing person di bumi memasang ragam strategi agar momok itu lepas jauh. Kerja keras, semangat, optimisme serta dibantu kemampuan berkomunikasi membuat sebagian orang meraih sukses. Namun, peliknya persoalan serta terbatasnya jaringan interaksi, justru membuat sejumlah penduduk malah terpeluk erat oleh problema kemiskinan tersebut. Air mata pilu dan doa tak kunjung dijawab ceria. Kian hari, gumulan tak terelak hingga warga nekad melanggar norma agama dan kemanusiaan. Sesungguhnya, mereka sadar bila tindakan itu tidak boleh dilakukan. Tetapi ketika solusi terasa gelap, mau dibilang apa? Teori tak semudah realita.
Boleh jadi, demikianlah rasa penat yang membelenggu seorang janda di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi. Sebut saja nama sang ibu Marsitta. Dengan beberapa pertimbangan, jati diri dan lokasi terpaksa kurang vulgar dipublikasikan guna menghindarkan kemungkinan ekses terhadap keluarga korban.
Tanpa kebohongan, Marsitta memaparkan beratnya beban yang ditanggung atas penyakit yang mendera putranya, Holong (nama samaran, 40). Kepada anggota fraksi partai Golkar DPRD Sumut, Richard Eddy Lingga SE, ia tulus menyebut sudah dua tahun memasung Holong dengan cara mengikatkan rante besi ke kaki dan tangan si buah hati. Jalan terasa buntu kala suatu hari, ia menerima bogeman di pipi dari pria yang dilahirkannya. Sejak saat itu, perempuan ini trauma bila anaknya kambuh.
“Dua tahun lalu mulai parah. Pipiku dipukul. Aku dan anak-anak pun jadi takut. Jadi, kuputuskan tidak akan pulang ke rumah kalau tidak dapat posisi terikat” kenang Marsitta mengusap air mata mengawali cerita. Begitu pun, dibenarkan sesekali putranya sadar akan perbuatan. Namun spontan kemudian bisa-bisa ngamuk.
Sebelumnya, ia sudah sering membawa Holong berobat termasuk ke RSJ (rumah sakit jiwa) di Medan. Hasilnya tidak memuaskan. Korban malah memilih kabur menumpang minibus pulang menuju Sidikalang. Alasannya, kamar jorok dan banyak kutu busuk. Itu pula membuat sang bunda menerima. Sekali seminggu, penderita dibawa ke Medan untuk check sembari ambil obat. Holong juga sempat mau gereja. Kondisi itu membikin ibu mulai bangga. Sepertinya, ada pencapaian. Sayang, kesejukan tidak berlangsung lama. Putranya mulai menenguk alkohol hingga mabuk. Pikiran kurang normal. Itu, berujung pada kekerasan terhadap ibu.
Seakan menyesal, sang putra tidak melawan atas pengenaan rante itu. Dia terima saja hukuman. Hanya saja, bila kambuh, protes dibuat dengan langkah lain. Korban memukul kening dan kedua pipi sekuat tenaga. Kini, wajahnya berubah lembam. Bahkan, ketika Richard mengajak komunikasi, ia menutup diri mempertahankan selimut menutup badan.
“Jangan…jangan…jangan” ujarnya kepada ibu yang memintanya duduk berbicara. Karena kesal, kepalan tangan ditamparkan ke pipi sendiri. Dia pun diisolasi di sebuah kamar di bawah rumah tua bukan miliknya. Semua harta sudah tergadai. Tak ada lagi tanah yang mau dijual. Segalanya sudah kulepas. Yah… aku hanya berharap, Tuhan mencatat pengorbananku sebagai bekal masuk sorga, kata Marsitta, menambahkan, suami telah lama berpulang setelah sakit bertahun-tahun. Keganasan itu, diamini putri. Semasa remaja, lelaki itu tergolong pendiam dan kurang pandai bergaul.
Richard mengutarakan, akan berjuang melalui pendekatan kepada manajemen RSJ Medan agar diberi perlakuan khusus. Dia optimis, korban sembuh. Tahun kemarin, pria asal Desa Bintang Hulu Kecamatan Sidikalang berhasil pulih pasca perawatan intensif.
“Apa yang saya perbuat untuk rakyat, kiranya juga dicatat Tuhan. Mari sama-sama berbuat kebaikan memuliakan Tuhan. Dia akan membalas berlipat ganda” ujar Richard, Sabtu (5/2) berobsesi melanjutkan amanah rakyat di DPRD Sumut periode mendatang.
Oleh: Sarifuddin Siregar
Tak seorang pun manusia sudi bersahabat dengan kemiskinan. Masing-masing person di bumi memasang ragam strategi agar momok itu lepas jauh. Kerja keras, semangat, optimisme serta dibantu kemampuan berkomunikasi membuat sebagian orang meraih sukses. Namun, peliknya persoalan serta terbatasnya jaringan interaksi, justru membuat sejumlah penduduk malah terpeluk erat oleh problema kemiskinan tersebut. Air mata pilu dan doa tak kunjung dijawab ceria. Kian hari, gumulan tak terelak hingga warga nekad melanggar norma agama dan kemanusiaan. Sesungguhnya, mereka sadar bila tindakan itu tidak boleh dilakukan. Tetapi ketika solusi terasa gelap, mau dibilang apa? Teori tak semudah realita.
Boleh jadi, demikianlah rasa penat yang membelenggu seorang janda di Kelurahan Sidikalang Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi. Sebut saja nama sang ibu Marsitta. Dengan beberapa pertimbangan, jati diri dan lokasi terpaksa kurang vulgar dipublikasikan guna menghindarkan kemungkinan ekses terhadap keluarga korban.
Tanpa kebohongan, Marsitta memaparkan beratnya beban yang ditanggung atas penyakit yang mendera putranya, Holong (nama samaran, 40). Kepada anggota fraksi partai Golkar DPRD Sumut, Richard Eddy Lingga SE, ia tulus menyebut sudah dua tahun memasung Holong dengan cara mengikatkan rante besi ke kaki dan tangan si buah hati. Jalan terasa buntu kala suatu hari, ia menerima bogeman di pipi dari pria yang dilahirkannya. Sejak saat itu, perempuan ini trauma bila anaknya kambuh.
“Dua tahun lalu mulai parah. Pipiku dipukul. Aku dan anak-anak pun jadi takut. Jadi, kuputuskan tidak akan pulang ke rumah kalau tidak dapat posisi terikat” kenang Marsitta mengusap air mata mengawali cerita. Begitu pun, dibenarkan sesekali putranya sadar akan perbuatan. Namun spontan kemudian bisa-bisa ngamuk.
Sebelumnya, ia sudah sering membawa Holong berobat termasuk ke RSJ (rumah sakit jiwa) di Medan. Hasilnya tidak memuaskan. Korban malah memilih kabur menumpang minibus pulang menuju Sidikalang. Alasannya, kamar jorok dan banyak kutu busuk. Itu pula membuat sang bunda menerima. Sekali seminggu, penderita dibawa ke Medan untuk check sembari ambil obat. Holong juga sempat mau gereja. Kondisi itu membikin ibu mulai bangga. Sepertinya, ada pencapaian. Sayang, kesejukan tidak berlangsung lama. Putranya mulai menenguk alkohol hingga mabuk. Pikiran kurang normal. Itu, berujung pada kekerasan terhadap ibu.
Seakan menyesal, sang putra tidak melawan atas pengenaan rante itu. Dia terima saja hukuman. Hanya saja, bila kambuh, protes dibuat dengan langkah lain. Korban memukul kening dan kedua pipi sekuat tenaga. Kini, wajahnya berubah lembam. Bahkan, ketika Richard mengajak komunikasi, ia menutup diri mempertahankan selimut menutup badan.
“Jangan…jangan…jangan” ujarnya kepada ibu yang memintanya duduk berbicara. Karena kesal, kepalan tangan ditamparkan ke pipi sendiri. Dia pun diisolasi di sebuah kamar di bawah rumah tua bukan miliknya. Semua harta sudah tergadai. Tak ada lagi tanah yang mau dijual. Segalanya sudah kulepas. Yah… aku hanya berharap, Tuhan mencatat pengorbananku sebagai bekal masuk sorga, kata Marsitta, menambahkan, suami telah lama berpulang setelah sakit bertahun-tahun. Keganasan itu, diamini putri. Semasa remaja, lelaki itu tergolong pendiam dan kurang pandai bergaul.
Richard mengutarakan, akan berjuang melalui pendekatan kepada manajemen RSJ Medan agar diberi perlakuan khusus. Dia optimis, korban sembuh. Tahun kemarin, pria asal Desa Bintang Hulu Kecamatan Sidikalang berhasil pulih pasca perawatan intensif.
“Apa yang saya perbuat untuk rakyat, kiranya juga dicatat Tuhan. Mari sama-sama berbuat kebaikan memuliakan Tuhan. Dia akan membalas berlipat ganda” ujar Richard, Sabtu (5/2) berobsesi melanjutkan amanah rakyat di DPRD Sumut periode mendatang.


Disiarkan Hr Analisa Senin tgl 7/2/2011


http://www.analisadaily.com

BELUM ADA ANGKOT


Dua orang siswa SD berjalan tanpa alas kaki di Desa Salak Kecamatan Salak Kabupaten Pakpak Bharat, Senin (14/2). Pemandangan sedemikian bukan hal baru di sana . Kendati telah berusia tujuh tahun, daerah otonom ini belum mempunyai kendaraan khusus berupa angkot (angkutan kota ) berjarak tempuh pendek. Pemerintah daerah perlu mengajak dunia usaha melirik bisnis transportasi, sekaligus membantu mobilitas masyarakat. Ketersediaan jasa dimaksud juga takaran derap pembangunan. (Analisa/sarifuddin siregar)

Disiarkan di Hr Analisa tgl 17 feb 2011

Menkominfo Akan Sampaikan Kasus Kerusakan Jalan ke Menteri PU

Foto: dok pribadi

Sidikalang, (Analisa)
Perjalanan Menteri Komunikasi dan Informatika Ir Tifatul Sembiring dan manajemen PT Telkom dan PT Telkomsel ternyata tak luput dari derita akibat buruknya jalan umum yang menghubungkan Kabupaten Karo-Kabupaten Dairi tepatnya di Tiga Panah, Lae Pondom hingga Sumbul.
"Mulanya, saya hitung. Ada satu dua lubang. Eh, lama-lama jumlah lubangnya malah tak terhitung. Semua hampir rata lubang. Menengok situasi itu, mendingan tidur ajalah," ujar Tifatul di hadapan seratus lebih warga pada peresmian Desa Dering dan Penyediaan Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dipusatkan di Kelurahan Pegagan Julu I, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Sabtu (12/2).
Pada kunjungan kerja sekaligus melepas rindu pulang kampung ke Tigalingga Kecamatan Tigalingga, Tifatul menumpang mobil Toyota Alpahrd hitam metalik.
Di hadapan Bupati Dairi, KRA Johnny Sitohang Adinegoro didampingi Wakil Bupati Irwansyah Pasi, Tifatul menggaransi akan menyampaikan kasus tersebut kepada Menteri Pekerjaan Umum. Menurutnya, kondisi itu sangat memprihatinkan. Perlu ada atensi.
Terpisah, Johnny menyebut Kementerian PU telah melakukan perbaikan secara bertahap. Diakui, konstruksi saat ini sangat menyedihkan. Banyak korban jatuh disertai kerusakan kendaraan. Diutarakan, tahun ini seluruh lintasan jalan nasional khususnya di Lae Pondom akan dibenahi.
Ir Surung Hutajulu staf Balai Besar Rehabilitasi Jalan Nasional Kementerian PU melalui hubungan telepon selluler menginformasikan, rehabilitasi segera dilakukan demi layanan representative bagi masyarakat dan semua stake holder. Jalur dimaksud meliputi perbatasan Dairi-Karo di Lae Pondom, Sumbul hingga Simpang Tiga Kecamatan Sitinjo. Ruas tertentu telah diperbaiki selama dua tahun terakhir menelan biaya puluhan miliar rupiah.
Richard Eddy Lingga SE anggota DPRD Sumut daerah pemilihan Kabupaten Dairi, Karo dan Pakpak Bharat mengutarakan, hampir setiap minggu kecelakaan terjadi di lintasan itu. Kerusakan sudah di luar ambang normal.
Namun, persoalan itu tidak terlepas dari lemahnya pengawasan Dinas Perhubungan Sumut. UPPKB (Unit Pelaksanaan Penimbangan Kendaraan Bermotor) di Jalan Runding Sidikalang kurang memegang teguh komitmen guna memelihara pembangunan dan keselamatan pengguna akses transportasi. Berapapun muatan kendaraan tetap saja lewat tanpa hambatan.
Truk over kapasitas membawa kayu, jagung dan material lain melaju di depan mata. Demikian armada dari Medan memuat tiang beton dan besi meluncur tanpa hempangan. Saat melintas, terlihat jelas lapisan hotmix tertekan bagi gelombang akibat beban tidak wajar. Lama-kelamaan struktur itu berubah retak hingga berlobang. Baginya, ketiadaan gudang instansi terkait untuk penampungan barang kurang tepat dijadikan dalih kontrol tidak optimal. Sudah puluhan tahun timbangan dibangun, kok gudang tak pernah difikirkan? Nurani dan kesungguhan kerja oknum petugas dipertanyakan, kata Richard. Kalau gudang dibikin argumen, silahkan kontrak tanah atau gedung. Banyak tersedia di kota ini.
Pantauan wartawan, kerusakan jalan nasional juga terjadi di Desa Kutabuluh dan Desa Butar Kecamatan Tanah Pinem menuju Tiga Binanga Kabupaten Karo dan Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara. Titik tertentu mirip kolam dengan ukuran lumayan luas. Lapisan aspal tertutup total oleh Lumpur sedang pada pandangan lain, konstruksi berubah tinggal batu kerikil memutih. (ssr)


Disiarkan Hr Analisa, tgl 17 feb 2011


http://analisadaily.com

Tifatul: 32.800 Desa di Indonesia Bakal Tersentuh Internet


Sidikalang, ( Analisa)। Menkominfo Ir Tifatul Sembiring melakukan teleconference dengan warga di Sulawesi Tenggara seputar kondisi penyediaan sarana teknologi pada acara peresmian Desa Dering.Palapa Ring, sebuah akses internet yang sedang dibangun diproyeksikan mampu menjalin konektivitas di 33 provinsi di Indonesia. Diharapkan, pengerjaannya rampung tahun ini. Hingga tahun kemarin, kegiatan masih menjangkau Sumut, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Jawa dengan jumlah layanan 31.800 desa. Sementara target total 32.800 desa. Ke depan, akses internet akan menyentuh hingga Papua. Cita-cita negeri menghubungkan nusantara melalui jalan tol komunikasi sebagaimana cita cita Gajah Mada dapat terwujud. Demikian dikatakan Ir Tifatul Sembiring Menteri Komunikasi dan Informatika pada peresmian Desa Dering dan Penyediaan Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dipusatkan di Kelurahan Pegagan Julu I, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Sabtu (12/2). Sehubungan itu, seluruh warga baik petani maupun praktisi lainnya serta siswa dapat memanfaatkan sarana tersebut. Petani dapat mengakses harga setiap waktu, sehingga prospek pasar lebih terkendali. Siswa di pedesaan juga bisa menimba ilmu agar pengetahuan tidak jauh tertinggal dengan peserta didik di kota. Guru misalnya, boleh melihat contoh soal sajian SMA Negeri Jakarta untuk dipakai sebagai pembanding. Tifatul kembali menegaskan, internet harus diarahkan untuk tujuan positif. Dia menolak bila akses internet jika digunakan demi pornografi. Upaya negatif itu berdampak luas merusak generasi muda termasuk menimbulkan tindak kriminal. Acara turut dihadiri managemen PT Telkom dan PT Telkomsel Jakarta. Seputar pemeliharaan didanai APBN itu, enam bulan ke depan dibebankan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. Seterusnya diserahkan ke pemerintah daerah. Jadi, nantinya bukan milik perorangan. Guna memastikan saluran sudah dalam posisi on line, Tifatul dan Bupati Dairi KRA Johnny Sitohang Adinegoro berkesempatan teleconference dan test calling bersama beberapa warga di antaranya penduduk Kabupaten Agam Sumatera Barat, Kabupaten Bireuen dan Sulawesi Tenggara serta istri Kepala Desa Parbuluan, Kabupaten Dairi, Saroha.Bupati Kabupaten Dairi menyambut positif kehadiran fasilitas tersebut. Menurutnya penguasaan teknonologi dan informatika merupakan ukuran kematangan masyarakat. Siapa yang menguasai teknologi maka dialah pemenang. Johnny juga memaparkan ragam terobosan demi peningkatan kesejahteraan warga termasuk kunjungan rutin per tiga minggu ke desa. Wakil Bupati Irwansyah Pasi, Sekretaris Daerah Arsenius Marbun, Anggota DPRD Sumut Richrad Eddy Lingga turut mengikuti acara sekaligus penyematan pakaian adat kepada menteri asal Kecamatan Tigalingga, sebuah perkampungan di daerah otonom ini. (ssr)


Disiarkan Hr Analisa, Minggu tgl 13 Feb 2011

Minggu, 06 Februari 2011

Ratusan Truk tertahan di Sitinjo


Sidikalang, (Analisa)
Truk besar (trado) pengangkut excavator nyaris terjungkal di leter "S" Desa Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi Kamis (3/2). Jalur itu adalah jalan nasional.
Akibatnya, ratusan truk beragam muatan bergerak dari dan menuju Sidikalang dan Medan serta Siantar tertahan di tikungan itu. Truk teronggok tepat di tengah badan fasilitas umum. Posisi alat berat bergeser miring "mencium" tanah karena besi pengikat terlepas. Konstruksi jalan juga rusak parah membuat armada lainnya tak mampu melintas.
Kendaraan roda empat, baik mobil pribadi dan minibus terpaksa berjalan di bagian tepi yang juga penuh lumpur dan berlubang. Di lokasi, truk BK 8315 M ditinggalkan begitu saja oleh supir. Para pengendara lainnya terlihat emosi. Utamanya adalah para pedagang sayur. Mereka takut, kalau barang terlambat tiba di tujuan bakal busuk. Sementara itu, sejumlah pria mengaku kernet truk membuat jalan darurat dengan menimbun lubang di salah satu sisi jalan.
Kecelakaan itu setidaknya memakan dua kasus kecelakaan lain. Sebuah minibus bermerek Himpak nomor polisi BK 1927 GJ jurusan Medan-Aceh Singkil juga terbalik tak jauh dari posisi trado. Sopir, Buyung Berutu menjelaskan, sekira pukul 00.00 WIB, Kamis (3/2) ia hendak melaju melintasi mobil berat itu. Tiba-tiba, dia terkejut melihat badan excavator jatuh nyaris terguling. Kepala truk juga miring. Spontan saja ia memundurkan armada hingga terbalik terperosok lubang. Sisi mobil yang ia setir pun peyot. Tidak terlihat bantuan dari aparat terkait menangani masalah hingga menjelang siang. Tak ada petugas di situ.
Richard Eddy Lingga anggota Fraksi Golkar DPRD Sumut daerah pemilihan Kabupaten Dairi, Karo dan Pakpak Bharat ditemui di lokasi berpendapat, kerusakan infrastruktur di jalan nasional sudah pada fase mengkhawatirkan. Lapisan hotmix hilang hingga menyisakan kerikil dan ancaman. Kasus itu telah mengambil banyak korban. Peristiwa terakhir dimaksud, juga tidak terlepas dari persoalan kerusakan. Mungkin sopir bingung sebab permukaan konstruksi hampir kehilangan wajah ideal.
Kapolres, AKBP Yustan Alpiani melalui pesan singkat menyebut, segera mencari solusi agar arus lalu lintas kembali normal. Siang hari, sejumlah kendaraan dari dua arah mulai melaju. (ssr)


Disiarkan di Hr Analisa, Jumat (4/2/2011)

Arus Lalu Lintas Pakpak Bharat-Aceh Singkil Lumpuh


Pakpak Bharat, (Analisa)
Arus lalu lintas menghubungkan Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara-Aceh Singkil Propinsi Aceh lumpuh. Hingga berita ini dikirim Kamis (3/2) siang suasana belum normal.
Musibah menerpa, Rabu (2/2) pukul 16.00 Wib. Sekitar 20 jam pengguna jalan tertahan. Itu terjadi menyusul longsoran tanah bercampur kayu log besar dari arah tebing dan hutan menutup fasilitas transprotasi , persisnya di Lae Ikan Kilometer 194 Medan, Desa Lae Mrempat Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Pakpak Bharat. Titik itu merupakan perbatasan kedua wilayah. Sekitar 200 meter gundukan lumpur memanjang membuat konstruksi kehilangan permukaan.
Kendaraa roda dua hingga mobil besar sama sekali tak dapat lewat. Kebuntuan terlihat sepanjang empat kilometer. Diperkirakan, 500 san kendaraan terjebak di arah Pakpak Bharat, sedang dari posisi Subulusalam belum diperoleh informasi. Tidak ada korban jiwa akibat musibah itu. Namun, sebuah rumah dan kamar mandi umum di lokasi berbeda dilaporkan hanyut. Walikota Subulusalam, Merah Sakti SH dikabarkan memaksakan diri melangkah menapaki lumpur menuju Medan.
Ribuan pengguna jasa kendaraan mengaku kelaparan. Mereka terpaksa bermalam di mobil sedang pengendara sepeda motor nginap di rumah penduduk. Cuaca buruk menghantui fikiran.
"Kami sudah sangat lapar. Warung-warung sudah kehabisan makanan karena dibeli oleh pengantri. Kami tidak tahu lagi gimana jalan keluar. Yang paling kasihan anak-anak ini" ujar Khaerani penumpang bus asal Kabupaten Batubara menuju Trumun Kabupaten Aceh Singkil. Hal senada disampaikan Ramli Sembiring (63). Menurutnya, sudah semalaman tidak masuk nasi. Dia sedih membayangkan cucu menderita bersamanya.
Bupati Kabupaten Pakpak Bharat, Ir Remigo Yolando Berutu MBA melalui telepon selluler menjelaskan, menurunkan alat berat guna membersihkan lelumpuran. Sejumlah personil pemerintah juga dikerahkan. Segala upaya dicurahkan dan berharap persoalan segera teratasi. Dibenarkan, pihaknya menjalin komunikasi dengan Pemko Subuusalam sehingga material dikepung dari dua arah. Dia optimis, sore hari lalu lintas berjalan normal. Kendati ruas itu merupakan jalan nasional, ditegaskan kebutuhan masyarakat adalah prioritas sebagai wujud pelayanan dan responsibilitas.
Empati
Di lapangan, tidak terlihat alat berat Balai Besar Jalan Nasional. Hanya pick up kuning plat merah nonggok di sana. Richard Eddy Lingga anggota Fraksi Golkar DPRD Sumut daerah pemilihan Kabupaten Dairi, Karo dan Pakpak Bharat di sela kunjungan lapangan menyesalkan lemahnya kepedulian Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Rehabilitas Jalan Nasional. Dia menyebutkan, lembaga itu perlu membuat persiapan berupa penyediaan alat berat sebab longsor kerap di situ. Selanjutnya, ia mengapresiasi empati Bupati Pakpak Bharat dan Pemko Subulusalam menanggulangi masalah.
Akibat musibah tersebut, kata Richard, kerugian besar mendera masyarakat utamanya pedagang. Ragam sayuran, buah dan daging khususnya ayam potong terancam gagal dijual. Ayam banyak mati di perjalanan. Arus dari Medan dan kota lainnya menuju dan dari Aceh Singkil, Tapaktuan dan Subulusalam terganggu.
Salehuddin Pohan dan Denny Insyah mahasiswa perguruan tinggi swasta di Medan mengungkap sempat terseret arus longsor. Pergerakan lumpur itu bagai air bawah. Beruntung mereka spontan melompat menyelamatkan roda dua tumpangannya. Perjalanan itu diarahkan untuk pulang kampung ke Subulusalam.
Kepala Dinas Perhubungan Pakpak Bharat, Mester Padang didampingi Kepala Bidang Peralatan Dinas Pekerjaan Umum Iwan Taruna mengutarakan, selain tertimbun akibat longsor, sejumlah badan jalan juga amblas. Empat tiang listrik hanyut. Kapolres Pakpak Bharat melalui Kepala Satuan Lalu Lintas menyebut, terdapat 23 titik longsor di sepanjang jalan nasional jalur Sukarame-Lae Ikan. (ssr)
Disiarkan di Hr Analisa, Jumat (4/2/2011)

http://www.analisadaily.com

12 Ruko Terbakar di Sidikalang





Sidikalang, (Analisa)Sebanyak 12 unit ruko (rumah toko) di Jalan Boang Kelurahan Sidikalang, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi ludes dilalap si “jago merah”, Sabtu (5/2), sekira pukul 08.30 WIB. Api begitu cepat menyambar dari bangunan satu ke bangunan lainnya. Hal ini disebabkan karena konstruksi bangunan yang semi permanen itu berdinding kayu. Begitu juga usia bangunan yang relatif tua.Suasana menjadi panik saat ribuan pedagang di kawasan itu ‘berjibaku’ di tengah lautan api guna menyelamatkan barang dagangan. Apalagi hari itu merupakan puncak perdagangan di akhir pekan. Kepanikan benar-benar dirasakan. Kawasan yang dipenuhi pedagang kakilima hingga ke Pasar Induk Sidikalang, menjadi hingar bingar. Badan jalan terasa sesak. Tidak banyak barang dagangan yang berhasil diselamatkan dari ‘jilatan’ api. Isak tangis dan doa terdengar di sana sini. Boru Siregar pengusaha SPBU yang tak jauh dari lokasi kebakaran langsung mengantisipasi pengisian bahan bakar miliknya dengan cara mempersiapkan racun api.Belum diketahui pasti asal muasal api. Hanya saja, jilatan terhenti ke arah utara karena terhalangi tembok beton berlantai tiga. Warga berusaha menjinakkan keganasan api dengan menyiramkan air seadanya. Rumah penduduk di depan pasar dimanfaatkan untuk mengamankan barang dagangan. Sementara itu, ketakutan menghantui warga Jalan Klasen yang berada di belakang lokasi kebakaran. Angin berhembus ke arah Jalan Klasen. Dibantu sejumlah personil Polres Dairi dan TNI AD, mereka mencoba menghempang ‘jilatan api’ dengan merusak paksa rumah penduduk.Pemkab Dairi mengerahkan semua mobil pemadam kebakaran. Hanya saja, hasilnya tidak optimal. Sejumlah mobil macet saat menyemprotkan air. Sesekali, selang terlepas hingga air terbuang percuma. Mobil kebakaran milik PT Wahana Graha Makmur juga turut memadamkan api.DitinggalSaksi mata, Kipson Siregar, penduduk Jalan Boang mengatakan, saat kejadian ia tengah mengetik surat di rumah. Tiba-tiba, terdengar suara ribut menyebut api. Spontan saja, ia keluar dan merasakan panas akibat kobaran api. Oppu Gilbert Sihite pedagang kakilima asal Desa Bunturaja menyebutkan, kala itu ia menyusun pisang untuk ditawarkan. Tak lama berselang, suara histeris terdengar ramai. Dia meninggalkan jualan menyelamatkan diri. Hal senada disampaikan Damaris Siregar penjual sayur-mayur asal Desa Juma Tenguh Kecamatan Siempat nempu. Barang dagangan pun luluh lantak terinjak massa. Dia melompat menyusul panas luar biasa. Aneka hasil bumi utamanya sayuran segar berserak bagai tak bertuan ditinggal pemiliknya.Data sementara diperoleh wartawan, ruko yang terbakar mulai nomor 12 hingga 24. Diantaranya dihuni Marga Sihombing /boru Sinulingga, Berton Simbolon/boru Sinurat, Sinaga/boru Sinulingga, Gurning, boru Simanjuntak, Banurea/boru Pasaribu, Simbolon/boru Manullang, Tarigan/boru Damanik. Ruko tersebut dipakai untuk ragam bisnis diantaranya salon kecantikan, penyedia meubel, warung kopi, apotik dan usaha jahit. Kegiatan belajar mengajar siswa SD St Josef dan SMP St Paulus terpaksa dibubarkan menyusul insiden itu. Kebetulan asrama St Clara di Jalan Klasen adalah tempat tinggal mereka. Pelajar saling membahu mengangkat asset dan membantu tetangga. Kapolres, AKBP Yustan Alpiani memberi instruksi kepada tim. Sekretaris Daerah, Arsenius Marbun, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Amister Lumban Gaol, John Mustafa Silalahi Kepala Dinas Perindustrian dan Pedagangan membaur memberi empati. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.Kapolres mengatakan, terkait bencana itu penyelidikan sedang dilakukan. Kabar sementara, tidak ada korban jiwa. Pissher Simamora dan Togar Simorangkir anggota DPRD turut prihatin atas peristiwa naas itu. Dia berharap, semua pihak mengambil pelajaran, termasuk pemerintah agar senantiasa mempersiapkan mobil pemadam kebakaran. (ssr/dp)






Disiarkan di Hr Analisa, Minggu (6/2/2011)

Senin, 31 Januari 2011

Pelantikan Bupati Kabupaten Pakpak Bharat


Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin melantik Bupati dan Wakil Kabupaten Pakpak Bharat, Ir Remigo Yolando Berutu-Ir Maju Ilyas Padang di gedung DPRD di Salak tanggal 25 agustus 2010 masa bhakti 2010-2015.

Minggu, 30 Januari 2011

Pengusaha Lirik Bisnis Super Market di Sidikalang?






Kantor Bupati Dairi Bakal Dijadikan Super Market PDF Cetak Email

Sidikalang, (Analisa)

Sinyal perubahan kemajuan mulai terlihat. Sehubungan itu, dukungan rakyat amat dibutuhkan guna mewujudkan kesejahteraan sekaligus mengejar ketertinggalan dibanding daerah otonom lainnya. Ragam peluang sudah di depan mata.

Dari berbagai lobby kepada beberapa menteri dan investor, dana pembangunan segera masuk.

Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Dairi, KRA Johnny Sitohang Adinegoro pada acara syukuran tahun baru di rumah dinas, Selasa (4/1).

Lebih konkrit dijelaskan, Kantor Bupati di jalan Sisingamangaraja Sidikalang hampir pasti dipindahkan ke kawasan Panji Sibura-bura. Rp 30 miliar dana APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) telah diposkan.

Syarat realisasi, bahwa lahan pendirian minimal 5 hektar mesti ada dan statusnya kuat secara hukum. Kalau tanah tersedia, biaya segera dikucurkan. Selanjutnya, gedung lama dijadikan super market menyajikan aneka kebutuhan memasang harga grosir. Pengusaha asal China telah menyatakan komitmen mengembangkan bisnis di sini, yakni pusat perbelanjaan.

Fungsi pendopo akan lebih strategis. Yakni diarahkan bagi pertemuan dan penginapan tamu eksekutif semisal petinggi Polri, TNI, pejabat pemerintahan dan lainnya. Model pesanggrahan, tambah dia.

Langkah itu diupayakan untuk mendorong percepatan pembangunan sekaligus manajemen tata wilayah. Pusat kota Sidikalang dikonsentrasikan untuk perdagangan sedang Sitinjo sekitarnya diproyeksikan bagi administrasi pemerintahan.

Jadi, ada pertumbuhan selaras dan bermakna besar bagi warga. Hanya saja diingatkan, penduduk tidak melakukan spekulasi terkait harga satuan tanah yang berpotensi menimbulkan kegagalan.

"Mari bulatkan tekad mengedepankan kepentingan bersama ketimbang personal" pinta Johnny politisi Partai Golkar ini.

PT DPM

Lebih lanjut diterangkan, izin pinjam pakai hutan lindung untuk kebutuhan eksploitasi seng dan timah hitam PT DPM (Dairi Prima Mineral) di Desa Sopokomil Kecamatan Silima pungga-pungga, diprediksi terbit tahun ini. Tidak terlalu lama segera operasional.

Berdasarkan kesepakatan bersama pemerintah daerah, Johnny menegaskan, pengusaha bertanggung jawab terhadap pemeliharaan jalan jurusan Sidikalang-Parongil. Tahun ini, ruas itu diaspal berkonstruksi hotmix sehingga derita warga dapat terobati.

Bila eksploitasi dilakukan, Pemkab Dairi memperoleh royalty Rp 120 milliar per tahun. Dengan demikian, angka APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah) naik siginfikan. Diprogramkan, sebagian uang itu dipakai membenahi infrastruktur sehingga fasilitas menuju desa khususnya sentra produksi akan mulus. Lainnya, dikelola bagi pengembangan pendidikan, kesehatan dan air bersih. Intinya, ditujukan pada kepentingan prioritas.

Demi kelancaran pengiriman konsentrat, ruas jalan diperlebar dari Parongil hingga Pelabuhan Kuala Tanjung sebelum diekspor. Minimal ukuran 20 meter. Ini wajib dipenuhi agar keberadaan sarana transportasi perusahaan tidak menimbulkan masalah baru bagi warga. Jarak tempuh Sidikalang Medan diupayakan normal yakni 4 jam. Berbagai kajian telah dilakukan dimana niat baik investor mesti memberi dampak positif.

Paparan itu mendapat aplaus dari undangan dimana sebelumnya belum pernah terdengar. Di sana hadir Ketua DPRD Delphi Masdiana Ujung SH MSi, Sekretaris Daerah Arsenius Marbun, para pimpinan instansi, manajemen bank, TNI,Polri dan sejumlah warga.

Dia juga mengurai seputar investasi PT Starbugs Coffee di Kecamatan Parbuluan. Perusahaan kopi pemegang market internasional itu ekspansi dengan luasan awal 3000 hektar. Diperkirakan, minimal 1500 orang tenaga kerja tertampung di sana.

"Bila tidak ada perubahan nyata, saya siap mundur. Tetapi, jangan pula melempar fitnah untuk mendiskreditkan saya" ujarnya. Sebelumnya, Johnny bersama Wakil Bupati Irwansyah Pasi menyatakan, dua tahun masa kepemimpinan, janji kemakmuran diperlihatkan. (ssr)


http://www.analisadaily.com

288 Warga Dairi Terinfeksi TB Paru


PDF Cetak Email
Sidikalang, (Analisa)

Sebanyak 288 dari 288.166 penduduk Kabupaten Dairi dinyatakan positif terjangkit penyakit TB paru atau biasa disebut TBC (tuberculosis).

Dari 15 kecamatan di wilayah ini, penderita terbanyak ditemukan di Kecamatan Siempat nempu hulu yakni 28 orang dan terendah di Kecamatan Parbuluan tercatat 4 orang. Namun angka itu bukan indikator resmi penyebaran dimana posisi dimaksud dicapai mungkin saja karena sikap pro aktif petugas medis maupun kesadaran penduduk.

"Pencapaian minim bukan berarti infeksi sedikit. Mungkin saja Gairah kerja belum sebagaimana diharapkan. Data itu, diperoleh melalui Gerakan Sayang Dahak yang dicanangkan agustus 2010 melalui swadaya," kata dr Nitawati Sitohang Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi, Senin (24/1) di Sidikalang.

Statistik tersebut merupakan laporan pada posisi triwulan III tahun kemarin. Perkembangan triwulan IV sedang tahap perampungan. Dia berharap, pengidap tidak dikucilkan dari interaksi sosial sebab penyakit itu benar-benar dapat disembuhkan.

Justru sebaliknya, perlu diberi motivasi. Jika mengikuti petunjuk, penderita perdana dapat sembuh kurun waktu enam bulan sedang kartegori lainnya semisal lantaran kambuh akibat kurang intensif melakukan kontrol, rata-rata tertangani selama 9 bulan. Korban atau keluarga diminta terbuka bila merasa ada kelainan menyangkut pernafasan melalui konsultasi ke puskesmas terdekat.

Tahun 2011, ujar Nitawaty, institusi ini menerima alokasi anggaran sebanyak Rp 600 juta. Sehubungan itu, ditargetkan angka suspect positif mencapai 461 orang. Pihaknya menerapkan model "jemput bola" yakni mendatangi penduduk door to door.

Ditekankan, seluruh pasien dibebaskan dari biaya. Jadi, warga tidak perlu ragu memeriksakan dahak ke puskesmas terdekat. Penanganan, sepenuhnya dapat dilakukan di desa asalkan mengikuti arahan. Tak perlu di RSU Sidikalang atau lembaga setingkat. Petugas medis punya pengetahuan cukup bagi pemulihan.

Diutarakan, kondisi penyakit TB paru bagai gunung es. Tidak terlalu menyolok di permukaan tetapi sebarannya mengkawatirkan. Satu dua orang saja di sekeliling kita terserang, potensinya bisa melumpuhkan banyak sendi kehidupan masyarakat termasuk berdampak pada perekonomian.

Ditambahkan, pihaknya sangat serius memutus rantai penyakit guna menyeleraskan program nasional dengan daerah demi mewujudkan masyarakat sehat.

Bupati, KRA Johnny Sitohang Adinegoro berobsesi, tahun ini masalah tersebut tuntas bersama penanganan kasus gizi buruk. (ssr)

http://www.analisadaily.com

Bupati Dairi Terima Ambulance Bantuan PT Askes


PDF Cetak Email
Sidikalang, (Analisa)

Bupati Kabupaten Dairi, KRA Johnny Sitohang Adinegoro menerima penyerahan satu unit mobil ambulance bantuan PT Askes. Kendaraan itu dipakai guna kelancaran tugas di RSU Sidikalang. Serah terima dilakukan di pelataran kantor bupati di Sidikalang, Selasa (25/1).

Muspida, Wakil Bupati Irwansyah Pasi SH dan pejabat bersama sejumlah warga menyaksikan agenda dimaksud.

Acara digelar serangkaian penandatanganan nota kerja sama Bupati dengan Rasinta Ria Ginting Kepala PT Askes Cabang Karo bertajuk "Jaminan Kesehatan Masyarakat Umum Gerakan Terpadu Nduma".

DR Ikhsan MM AAK Kepala PT Askes Regional I menaungi Sumatera Utara dan Aceh menjelaskan, BUMN ini senantiasa mencari terobosan demi meningkatan pelayanan kesehatan. Di antaranya adalah pembuatan askes center bagi pelayanan standar di berbagai unit termasuk RSU Sidikalang.

Juga, memprogramkan pengecekan penyakit kronis melalui dokter keluarga. Nantinya, para pasien diorganisir ke prakter dokter sehingga pengobatan lebih teratur. Melalui senam sehat melibatkan kedua institusi, kemitraan juga kian terjalin.

Dia menambahkan, ambulance tadi dilengkapi peralatan canggih. Untuk operasi tertentu bersifat emergency dapat dilaksanakan di sana.

Johnny mengatakan, keberadaan BUMN dimaksud kian memberi makna dan signifikan bagi upaya penyehatan masyarakat. Itu dirasakan sejak beberapa waktu terakhir. Tidak lagi sekedar mengumpul uang. Dibenarkan, hibah beberapa unit komputer tahun kemarin secara tidak langsung meningkatkan kualitas hidup warga dimana urusan administrasi perkantoran bertambah mudah.

Keberadaan kendaraan di atas, kata politisi Partai Golkar ini, amat strategis dimana RSU Sidikalang merupakan rujukan beberapa kabupaten/kota bertetangga termasuk pasien asal Aceh.

Terkait "Jaminan Kesehatan Masyarakat Umum Gerakan Terpadu Nduma", Johnny memaparkan, itu dilatarbelakangi banyaknya penduduk tidak tercover sebagai pasien askes maupun jamkesmas. Menyiasati keluhan warga, pemerintah daerah menyusun pola agar seluruh rakyat utamanya mereka non askes mendapat pelayaran setara. Pada tahap pertama, 6000 kepala keluarga didaftar di sana. Acara ditandai penyerahan kartu dari bupati kepada seorang penduduk, Bernad Siregar. (ssr)

Penyerahan Sapi Bantuan






Bupati Dairi Serahkan 76 Ekor Sapi
PDF Cetak Email

Sidikalang, (Analisa)

Bupati Kabupaten Dairi, KRA Johnny Sitohang Adinegoro menyerahkan 76 ekor sapi kepada dua kelompok tani. Penerima bantuan tersebut adalah kelompok tani Saroha beralamat di Desa Lae Hole Kecamatan Parbuluan dan Kelompok Tani Nduma berkantor

di Desa Pasi Kecamatan Berampu. Masing-masing berjumlah 38 ekor.

Acara dirangkai pemberian traktor tangan sebanyak 14 buah dan mesin pompa air sebanyak 7 buah. Semuanya adalah bantuan kementerian Pertanian. Penyerahan dilaksanakan di pelataran kantor bupati di Sidikalang, Selasa (25/1). Muspida, Wakil Bupati Irwansyah Pasi SH turut menyaksikan serah terima alat pertanian tersebut.

Pengadaan material dimaksud, kata Johnny terkait erat dengan upaya peningkatan produktivitas pertanian. Sebagai daerah agribisnis, tentunya ketersediaan peralatan dibutuhkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Mekanisasi adalah salah satu cara memperbaiki hasil termasuk pendapatan keluarga.

Ia berharap, peralatan tidak berumur singkat. Justru sebaliknya, mesti punya life time panjang serta memberi mamfaat besar bagi anggota kelompok tani. Jangan sampai, ketua mengedepankan egoisme sehingga lahannya selalu mendapat prioritas penanganan. Pengurus seyogianya mengutamakan layanan kepada peserta.

"Bila pada akhirnya hand traktor ini dimodifikasi menjadi alat angkutan ke ladang lalu dipajang, maka sia-sialah tujuan baik dan empati pemerintah" kata Johnny.

Ternak di atas, kata Johnny mesti dikembangbiakkan sehingga ke depan populasi kian banyak. Perannya penting meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus penyumbang kompos. Kepedulian pemerintah, seyogianya diarahkan bagi rajutan harmoni dan semangat gotong royong penduduk. Karenanya, mari pelihara bersama dan tunjukkan rasa tanggung jawab. Camat diinstruksikan melakukan pengawasan serta pencerahan

Diutarakan, sebelumnya ragam bantuan telah diberikan. Diantaranya adalah bibit pisang, kopi, kakao, pestisida berbiaya total Rp 13 miliar. Dia berobsesi, akhir tahun 2011, pintu perubahan menuju perbaikan taraf hidup warga telah dirasakan.

Hasbullah Ujung pengurus kelompok tani Mbuah Page Desa Pasi Kecamatan Berampu mengatakan, luas areal persawahan di daerahnya mencapai 80 hektar. Umumnya diolah secara manual yakni memakai cangkol. Pola kerjanya amat melelahkan. Mereka menyambut gembira alokasi bantuan demi meringankan beban. Pihaknya akan bermusyawarah seputar pemakaian traktor itu termasuk kewajiban petani saat pakai. (ssr/dp)

Paropo salah satu sisi indah Danau Toba


Pantai Paropo di Desa Paropo Kecamatan Silabisabungan adalah salah satu sisi terindah danau Toba. Sayangnya, potensi ini belum digali optimal. Pengembangan ikan tawar model kerambah jaring apung dibiarkan berkembang tanpa kendali. Konsekwensinya, keungyulan tersebut menjadi semu.

Pakpak Bharat Back to Nature







PDF Cetak Email
Oleh : Sarifuddin Siregar

Cuaca di pagi hari tepatnya, Kamis (9/12) terasa indah. Mentari muncul menampakkan diri mencurahkan cahaya penuh berkat. Langit hadir perlahan cerah hingga tampil bersih membiru. Hijauan dedaunan dan hutan bernyanyi melantunkan syair ceria mengamini keselarasan terhadap penghuni.

Suasana hati terasa nyaman dan bersahabat. Demikian sekilas pandang petikan kata demi kata kala duduk sejenak mengamati sekeliling lapangan Napasengkut, sebuah stadion berkonstruksi sederhana di Kecamatan Salak Kabupaten Pakpak Bharat.

Sejumlah warga dari penjuru desa mengarahkan perhatian ke sana. Rombongan dari delapan kecamatan wilayah otonom itu melangkah rileks menjingjing hasil bumi, sinyal bahwa kesejahteraan terbuka lebar. Ayam kampung, jeruk manis, cabe, kelapa, coklat, padi, petai, durian, kepala sawit dan karet adalah beberapa sampel komoditas yang diusung dari tempat tinggal masing-masing. Itu juga gambaran bahwa ragam vegetasi tumbuh subur. Irama musik tradisional Pakpak diarahkan menyambut setiap delegasi yang tiba. Ruang terbuka tersebutpun kian mempesona seiring tampilan kemeja dan gaun warna hitam seluruh pengunjung -- simbol etnis lokal ini. Di sana, mereka membaur memperkokoh kekerabatan.

Ada apa gerangan? Ternyata mereka sangat merindukan gelar doa bersama sebagaimana dilakukan para nenek moyang terdahulu. "Sodip" begitu nama istilah Pakpak diperkenalkan. Ketika masyarakat hidup dalam keterbatasan informasi dan teknologi, penyerahan diri kepada Sang Pencipta sebelum menjalankan aktivitas merupakan kewajiban. Kala itu, setiap insan percaya, raihan limpahan hasil panen bukanlah karena kekuatan semata. Justru sebaliknya diperoleh karena kuasaNya.

Dan, Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat bertekad menanamkan kembali nilai luhur itu dengan menguatkan budaya dipadu agama. Ini upaya membentengi diri dan generasi muda dari ekses perubahan zaman sekaligus memperkokoh jiwa dari assimilasi budaya asing.

Adat budaya Pakpak memang unik. Namun, keunikan itu sekaligus menjadi pondasi bahwa konsep pelayanan tidak sebatas retorika. Bila lazimnya tuan-tuan penguasa dan hartawan diberi kursi empuk pada hampir setiap upacara, justru di sini mereka duduk setara bahkan melayani warga dan tamu. Dalam rumpun etnis Pakpak, prosesi adat mengenal tiga posisi yakni berru, kula-kula dan kesukuten.

Ibarat sebuah sebuah pesta, berru tersebut identik dengan kaum ibu atau pria dari keluarga pihak perempuan yang bertugas melayani undangan (bukan konotasi negatif-red).

Sehubungan itu, mereka berkewajiban mengurus segala sesuatu utamanya persiapan demi suksesnya acara. Sementara itu, rakyat berposisi sebagai kesukuten atau tuan rumah. Dalam suatu hajatan, mereka ibarat raja sehari berhadapan dengan para tamu. Seterusnya, kaum ulama atau rohaniawan serta tokoh adat adalah kula-kula atau tamu terhormat.

Pelayan

Memegang teguh nilai budaya dimaksud, Bupati Ir Remigo Yolando Berutu MBA dan nyonya, Wakil Bupati Ir Maju Elyas Padang, Kepala Kejaksaan Negeri Sidikalang Pendi Sijabat SH, Kapolres AKBP Suriadi Bahar dan Komandan Kodim 0206/D diwakili Kepala Staf Kodim Mayor Inf AS Marpaung duduk bersama di atas sehelai tikar. Tiada kesan sungkan atas posisi duduk mengikuti agenda itu.

Di sini, pakaian kebesaran bercorak hitam mereka kenakan serupa dengan hadirin. Ketika diminta, para pejabat ini beranjak menjamu kesukuten dimana Remigo berdiri di barisan terdepan. Sebuah pagelaran yang kian redup di tengah tekanan arus informasi.

Di sisi lain, sebagai pelayan, tertengok Remigo memberi atensi agar seluruh peserta mendapat menu. Tak heran, ia sedikit sibuk meninjau seksi konsumsi untuk memastikan bahwa semuanya dapat makanan.

Pada puncak acara, masing-masing ulama diberi kesempatan memanjatkan doa. Utusan agama Kristen Protestan, Katolik serta Islam secara bergantian mengucap syukur dan memohon restu agar kiranya daerah ini beroleh sejahtera berikut pemerintahan yang baik. "Petutupen tataring" demikian istilah local pada upacara doa melibatkan pemerintah, masyarakat dan ulama.

Drs MT Banurea mantan Ketua DPRD Dairi dari unsur tokoh masyarakat menyambut baik kepedulian pemerintah daerah. Hal sedemikian penting untuk memperkokoh adat budaya. Dahulu kala, semua penduduk terlebih dahulu berdoa bila hendak menjalankan aktivitas. Namun, tradisi itu kian redup. Pakpak Bharat adalah benteng terakhir mempertahankan eksistensi budaya Pakpak. Ragam kekayaan perlu digali demi memperkokoh peradaban. Hal senada disampaikan Ketua DPRD, Ir Agustinus Manik.

Ir Remigo Yolando Berutu MBA mengutarakan, acara tersebut bukan bermaksud seremonial. Dia punya komitmen, bahwa pemerintahan mesti dibangun di atas budaya dan agama. Kedua unsur tersebut sangat strategis untuk memperoleh keberhasilan. Ia ingin memperkuat eksistensi budaya Pakpak termasuk memperkenalkan ke kancah nasional.

Selain tarian, lagu dan alat musik, etnis Pakpak juga punya kekayaan lain termasuk olah raga identik pencak silat yang dinamai "tatak moccak". Benda sejarah berupa mejan banyak di wilayah ini membuktikan bahwa dulunya warga Pakpak merupakan perhatian dunia.

Ikut serta dalam penguasaan arus informasi dan teknologi memang suatu keharusan. Tetapi, back to nature dengan memperkokoh identitas serta nilai agama adalah kewajiban. Tradisi adalah added value-nya Bangsa Indonesia yang mendapat pengakuan dunia melalui Bhineka Tunggal Ika.

Dia menekankan, agenda itu menjadi entry point agar ke depan semua komponen bergandeng tangan memajukan daerah ini. Perlu satu bahasa. Kemudian, aparat pemerintah mesti menyadari bahwa keberadaannya adalah untuk melayani masyarakat. Jadi, beri kemudahan dibarengi etika.

Kepada wartawan, dijelaskan, konteks pemerintah sebagai pelayan sangat ideal dengan peradaban Pakpak. Pemkab perlu bekerja keras mengangkat kehidupan rakyat. Di awal kepemimpinannya, ia mengkonkritisasi kegiatan berupa realisasi penanaman jeruk manis seluas 50 hektar bersumber dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) di pos Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

Pihaknya memberi motivasi agar tiga atau empat tahun berikut tanaman usaha agribisnis itu berkembang menghasilkan uang.


Artikel ini telah disiarkan di Harian Analisa-Medan,Sumatera Utara